TEMA : MANUSIA DAN PENDERITAAN
Dampak kenaikan sembako ini sangat telak bagi rakyat. Pertama, Kenaikan harga sembako ini berentetan dengan kenaikan harga barang dan biaya hidup akibat kenaikan harga BBM, seperti kenaikan tarif angkutan, kenaikan sewa kamar/kost, dan lain-lain. Kedua, sebagian besar barang kebutuhan pokok rakyat, termasuk pangan, didapatkan melalui impor. Jika tidak ada kontrol dari pemerintah, ditambah lagi ancaman krisis pangan, harga pangan bisa naik liar. Ketiga, program kompensasi BBM, termasuk BLSM dan Raskin, tidak sanggup menalangi dampak yang dirasakan oleh rakyat akibat kenaikan harga BBM. Terlebih lagi, dampak kenaikan harga BBM itu gayung bersambut dengan kenaikan harga sembako karena momentum hari raya keagamaan.
Menghadapi situasi ini, pemerintah tidak boleh berpangku-tangan. Di sini, pemerintah pusat dan daerah harus turun tangan untuk mengontrol dan mengendalikan harga sembako agar tetap bisa dijangkau oleh rakyat banyak. Dalam hal ini, kita patut mengapresiasi langkah Pemerintah DKI Jakarta. Untuk menghadapi dampak kenaikan harga sembako pada bulan Ramadhan nanti, Pemda DKI Jakarta punya dua langkah, yakni, 1) menyiapkan lima pasar yang akan dijadikan tempat penyimpanan stok sembako. Nantinya, ketika harga sudah merokek naik, maka stok sembako itu dikeluarkan dan dijual dengan harga normal. 2) menggelar pasar malam sembako di tiap kecamatan dan kelurahan.
Memang, dalam situasi yang sulit begini, terobosan dari pemerintah sangat diperlukan. Tidak sekedar dengan operasi pasar. Dalam banyak kasus, operasi pasar tidak begitu efektif. Selain sifatnya yang temporer, operasi pasar juga hanya menjangkau segmen kecil dari masyarakat. Akibatnya, operasi pasar terkadang tidak begitu efektif menahan laju kenaikan harga dan memastikan ketersediaan sembako yang bisa dijangkau rakyat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar